Sabtu, 19 April 2014

MAY DAY 2014


Catatan May Day, BMI dan Bangsaku

Foto : indoleader


Beberapa waktu lalu, saya mengamati kalender tahun lalu (2013) dan saya bandingkan dengan kalender saya tahun ini (2014), ada yang berbeda. Dulu, angka 1 pada bulan Mei berwarna hitam, sekarang berwarna merah dan itu berarti menunjukkan bahwa 1 Mei 2014 hari libur. Saya teliti lagi, di bawah tertulis keterangan kecil 1 Mei 2014 : Hari Buruh Internasional. 
Karena penasaran, saya mencari informasi di internet dan saya dapatkan keterangan berikut :
Pasca peringatan Mayday tahun lalu, tepatnya 29 Juli 2013 Presiden SBY mengeluarkan Keppres 24 tahun 2013 tentang Penetapan tanggal 1 Mei sebagai Hari Libur. Artinya, mulai tahun 2014, setiap tanggal 1 Mei akan menjadi hari libur nasional dan kaum buruh dibebaskan dari kewajiban bekerja di perusahaan.

Saya sangat berharap semoga pemerintah kita mampu menciptakan lapangan pekerjaan kepada rakyatnya, bukan hanya sekedar memberi bantuan yang membuat rakyat yang mendapatkan semakin malas dan berpangku tangan. Semoga pemerintah kita melalui DPR mampu melaksanakan revisi UU Ketenagakerjaan, UU No.13 Tahun 2003. Tentunya, harapan saya dengan rumusan pasal yang lebih mengutamakan buruh dan kelas pekerja, tenaga kerja, karyawan atau apalah namanya intinya orang yang bekerja dan mendapatka upah dari orang lain atau pengusaha ini. Dengan kerja layak, upah layak, dan hidup layak seperti yang diharapkan, semestinya.

Saat ini, semakin menjamur PJTKI  di pelosok kampung, bahkan sampai-sampai di masyarakat perkotaan yang notabene sebagai tempat yang banyak menyediakan pekerjaan pun juga ikut – ikutan bekerja ke luar negeri karena iming-iming gaji yang lebih tinggi bila dibandingkan dengan pekerjaan yang serupa di dalam negeri.

Terkait dengan saya sebagai BMI (Taiwan) yang sudah Purna, semoga pemerintah kita mampu menampung aspirasi kaum pekerja khususnya dan segera merealisasikannya sehingga bisa mendapatkan kerja layak, upah layak, dan hidup layak di negara manapun bekerja.

Salut sekali buat sahabat BMI khususnya, yang mau dan mampu memanfaatkan Hari Libur untuk hal yang bermanfaat dan menjadikan media sebagai kebutuhan yang penting sehingga melek informasi teknologi dan tidak ketinggalan berita.

Teringat dengan tidak sedikitnya kasus BMI di luar negeri khususnya, teramat saya sesalkan sampai saat ini masih saja banyak kasus yang berseliweran dan masuk ke Crisis Center. Memang, saya sendiri pun menyadari selama kita hidup masalah itu selalu saja ada, tetapi bagaimana solusi / cara yang tepat untuk segera menangani dan menyelesaikan masalah. Mulai dari kasus pra penempatan / calon TKI, sedang berada di negara penempatan maupun setelah pulang kembali di Indonesia masih menggaung dan tentunya, memerlukan solusi yang jelas berbeda untuk penanganan pelayanan perlindungannya masing – masing masalah.

Pemberian perlindungannya menjadi tanggung jawab para stakeholder atau pihak terkait dalam proses penempatan TKI ke luar negeri. Di antaranya Kemenakertrans, Kemenlu, Kemenkes, Perwakilan RI di luar negeri (KBRI/KJRI/KDEI Taiwan), aparat penegak hukum, Disnaker Kabupaten/Kota/Provinsi, PPTKIS, serta BNP2TKI (dan unit kerjanya di daerah yakni BP3TKI/UPT-P3TKI, Loka P3TKI, dan P4TKI). "Perlindungan dilakukan dengan cara pembinaan, pengawasan, dan penegakan hukum,”  terang Deputi Perlindungan BNP2TKI Lisna Yoeliani Poeloengan yang saya baca di website resmi bnp2tki.

Beliau juga menjelaskan, Perlindungan Tiga Masa yang maksudkan adalah sebagai berikut :

1.      Perlindungan pada tahap pra-penempatan dilakukan dalam bentuk, di antaranya memverifikasi dan memvalidasi dokumen permintaan TKI dari pihak pengguna atau agensi. Pemberian informasi yang lengkap mengenai prosedur bekerja ke luar negeri. Pengawasan terhadap setiap tahap proses penempatan. Verifikasi dan validasi dokumen calon TKI. Fasilitasi penyelesaian masalah calon TKI. Pengamanan keberangkatan calon TKI ke luar negeri. Pencegahan penempatan TKI non-prosaedural.

Adapun jenis masalah atau kasus yang dialami calon TKI pada tahap pra-penempatan di antaranya gagal diberangkatkan ke luar negeri, mengalami penipuan/manipulasi dokumen, eksploitasi dan perlakuan tidak manusiawi dalam proses penampungan/pemberangkatan, serta pemberangkatan secara non-prosedural.

2.      Perlindungan TKI pada masa penempatan dilaksanakan dalam bentuk di antaranya monitoring keberadaan TKI melalui pengelolaan sistem pendataan. Pembinaan dalam bentuk welcoming programme, pemberian exit programme, pembinaan rohani dan pelatihan peningkatan keterampilan. Pemberian fasilitasi penampungan, kesehatan, konsumsi, dan lain-lain. Pemberian fasilitasi pemenuhan hak-hak TKI sesuai dengan perjanjian kerja. Pengurusan TKI yang menghadapi masalah (lobour case). Pengurusan dokumen yang diperlukan TKI selama bekerja. Pemberian bantuan hukum ketika TKI menghadapi masalah hukum. Pengurusan klaim asuransi bagi TKI. Pengurusan kepulangan TKI ke Indonesia.

Jenis permasalahan atau kasus yang banyak dialami TKI selama bekerja di luar negeri di antaranya hak-hak TKI dilanggar (gaji tak dibayar, fasilitas tidak diberikan, beban kerja melebihi ketentuan, dan lain-lain). Putus komunikasi dengan keluarga di tanah air. Tidak mampu bekerja atau tidak memiliki kompetensi kerja sesuai yang diminta. Dilakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) sepihak. Tidak memiliki dokumen yang layak atau sah. Mengalami kecelakaan kerja, sakit, dan meninggal dunia. Mengalami penganiayaan dan bahkan pelecehan seksual. Menjadi korban/pelaku tindak kriminal. Melanggar perundang-undangan negara setempat.

3.      Perlindungan TKI purna penempatan dilaksanakan dalam bentuk di antaranya pelayanan TKI di terminal kedatangan. Pendataan TKI yang pulang. Fasilitasi penyelesaian penanganan TKI bermasalah (sakit, hamil, membawa anak, PHK, depresi, dan lain-lain). Pengantaran TKI ke daerah asal. Fasilitasi pengurusan klaim asuransi TKI. Penanganan dan pemulangan jenazah TKI. Pengamanan kepulangan TKI ke daerah asal. Rehabilitasi TKI purna bernasalah. Fasilitasi pengurusan barang bawaan TKI. Pemberdayaan ekonomi TKI Purna penempatan.

Jenis kasus yang banyak dialami TKI dalam proses pulang dari luar negeri di antaranya pemerasan/eksploitasi, sakit, kecelakaan, dan meninggal dunia.

Masalah TKI dari dulu sampai sekarang terasa semakin meningkat dari tahun ke tahun seiring dengan meningkatnya jumlah pahlawan devisa itu di luar negeri dan yang sangat mengecewakan banyak kasus yang tidak terselesaikan dengan tuntas. Sehingga sebagai kaum lemah, terpaksa harus mau menerima apapun penyelesaian dan akhir dari masalah itu. Meskipun teramat sangat merugikan. Lalu di mana dan macam apa perlindungan yang digadang – gadang akan diberikan pemerintah untuk TKI itu ? Sungguh miris sekali melihat berita dan kenyataan yang ada. Dan itulah yang terjadi.

Semoga setiap stakeholders mau menyadari dan mampu melaksanakan peran dan tanggung jawabnya masing-masing dan menomorsatukan kepentingan bangsa ini bukan pribadi ataupun golongannya sehingga ke depan tidak akan ada lagi TKI di luar negeri yang diperlakukan tidak manusiawi dan negara kita, Negara Kesatuan Republik Indonesia ini akan dicap sebagai negara yang berharkat dan bermartabat di mata dunia, bukan bangsa yang memprihatinkan, banyak hutang dan pengangguran. Semoga saja. Aamiin.

Sahabat BMI khususnya dan sahabat pekerja umumnya di manapun berada, saya ucapkan :
"Selamat Hari Buruh Internasional, 1 May, May Day"

Selamat ber -'hari libur', mari manfaatkan waktu sebaik mungkin. Hati-hati bekerja, jaga kesehatan, jaga diri, jaga hati, jaga iman dan taqwa. Semoga keberkahan dan keberuntungan menyertai Sahabat semua dan seluruh keluarga. Aamiin Yaa Robbal 'aalamiin.

Oleh : Seftyna 
KAMI Ponorogo

Selasa, 17 Desember 2013

Jumhur Buka Kongres dan Seminar Buruh Migran

Jumhur Buka Kongres dan Seminar Buruh Migran

Cetak
Selasa, 17 Desember 2013 15:18

Share

Kepala BNP2TKI Moh Jumhur Hidayat

Jakarta, BNP2TKI, Selasa (17/12) - Kepala BNP2TKI Moh Jumhur Hidayat membuka Kongres dan Seminar Nasional Buruh Migran Indonesia (BMI) di Gedung Yayasan Tenaga Kerja Indonesia, Jakarta, Selasa (17/12).

Kegiatan yang diadakan oleh Dompet Dhuafa pada 16-17 Desember ini diikuti 10 organisasi BMI yaitu Migrant Institute, Serikat BMI, Keluarga Migran Indonesia, Mawar Balqis, Seruni, Jaringan Mekarwangi, Lembaga Perlindungan Anak Cirebon, SBM Gasbindo, KBMM, dan Forum Purna TKI Jawa Barat.

Menurut Jumhur, hasrat untuk berubah yang begitu tinggi itu terus menyala sejak TKI berangkat hingga kepulangannya. Hasrat ini merupakan modal utama yang harus dikelola oleh para Non Governmental Organization/NGO, perbankan, aktivis BMI dan stakeholder terkait lainnya.

Dijelaskannya, dari tekad untuk maju ini usaha yang dikelola oleh mantan TKI ini akan beda dengan usaha yang masyarakat pada umumnya.

BNP2TKI melalui direktorat pemberdayaan sejak lama sudah melatih ribuan TKI Purna dan Keluarga TKI terkait bidang edukasi kewirausahaan, keuangan dan manajemen di seluruh Indonesia. Melalui program ini sudah ribuan TKI Purna yang menjadi wirausaha baru di wilayahnya masing-masing.

Berbicara pada Seminar Nasional bertajuk "Meretas Jalan Kemandirian" ini, Jumhur mengatakan bahwa BNP2TKI mendorong terbentuknya Forum Pemangku Kepentingan TKI Purna beranggotakan kampus, perbankan, dann Corporate Social Responsibility/CSR dari stakeholder terkait.

Jumhur mengatakan, usaha-usaha TKI Purna ini tergolong dalam kelompok Usaha Menengak Kecil Mikro/UMKM. Saat ini, porsi UMKM masih kurang dari 60 persen dari 99 juta UKM di seluruh Indonesia.

Hingga kini alokasi perbankan untuk UMKM ini sebesar Rp28 trilyun atau sebesar 20 persen dari total 99 juta UMKM. "Hanya 20 persen usaha TKI purna dan UMKM lainnya yang kurang mendapat kredit usaha kecil," bebernya.

Kepada Adi Chandra, Direktur Eksekutif Migrant Care Institute dan kesepuluh organisasi BMI, Jumhur mendorong mereka untuk bekerjasama dengan Otoritas Jasa Keuangan/OJK, Bank Indonesia, lembaga pendana dari dalam dan luar negeri. "Kami siap bantu merekomendasikan lembaga pendana baik nasional maupun internasional," paparnya.

Kepala BNP2TKI mengakui masih banyak kekurangan dan perlunya kritik dari NGO. "Saya bukan Superman," tambahnya.

Jumhur menjelaskan, bahwa kritik ini penting karena hingga kini negara belum secara optimum membalas jasa TKI. [*]
"Kritik diperlukan agar pemerintah terus bekerja meningkatkan kesejahteraan TKI dan keluarganya," paparnya.

Sebelumnya, kesepuluh organisasi BMI ini mendeklarasikan Gerakan Buruh Migran Indonesia Berdaya. Gerakan ini sebagai upaya sistematis, komprehensif dan terintegrasi untuk memastikan potensi ekonomi BMI menjadi aset bagi lahirnya kemandirian BMI dan keluarganya. Dalam jangka panjang gerakan ini menjadi pondasi bagi kekuatan ekonomi bangsa.

Ada 3 sikap yang disepakati. Pertama, kemandirian ekonomi BMI dan keluarganya dalam sistem perlindungan BMI.

Kedua, kemandirian ekonomi BMI dan keluarganya adalah tanggungjawab dan memerlukan komitmen seluruh pihak.

Ketiga, kemandirian ekonomi BMI dan keluarganya harus menjadi substansi kebijakan. baru dalam tata kelola BMI melalui revisi UU No. 39 tahun 2004. (Zul/Rif)

Sumber : bnp2tki

Jumat, 05 Juli 2013

BMI Purna, anggota KAMI Ponorogo Berdayakan Pemudi Desa


Eka dan teman (sekaligus murid mejahitnya) di desa


Berawal dari keprihatinan atas kondisi warga di kampung halamannya, Desa Keben Josari Jetis, Ponorogo, Jawa Timur, Winarti Eka Lidyawati (33) terpanggil untuk bergerak. Salah satu alumnus pelatihan menjahit Institut Kemandirian (IK) Dompet Dhuafa ini membuka sebuah sentra pelatihan menjahit “Sangar Busana DD Eka”. Awalnya, keraguan ia rasakan.

“Saya sebenarnya ingin membuka industri jahit di sana tetapi tidak didukung oleh sumber daya manusia yang memadai juga dengan modal usaha,” ujar perempuan yang akrab disapa Eka ini.

Sebagai anak pertama dari keluarga petani yang memiliki keterbatasan ekonomi, perempuan kelahiran  Ponorogo ini menjadi tulang punggung harapan keluarga. Padahal,  ia bercita-cita melanjutkan pendidikan lebih tinggi setelah lulus Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Mimpi tersebut terpaksa kandas.

“Sempat ingin melanjutkan sekolah, tapi ngga ada biaya. Ya, saya usaha cari kerja waktu itu, maklum anak pertama,” ujarnya.

Mencari pekerjaan tak semudah yang dibayangkan Eka. Kesulitan demi kesulitan ia hadapi. Hingga pada 2003 ia berangkat ke Hong Kong mengadu nasib menjadi tenaga kerja di luar negeri (TKI). Baginya, menjadi TKI menjadi pilihan terakhir karena sulitnya mencari pekerjaan di tanah air.

“Jujur saja, bekerja di luar negeri bagi saya merupakan pilihan terakhir karena sudah mencari pekerjaan di tanah air sangat sulit,” kenangnya bercerita.

Kesulitan yang menerpa Eka masih terus berlanjut. Dua tahun pertama bekerja di Hongkong menjadi seorang pengasuh anak, ia merasa tak nyaman. Ia mendapatkan majikan yang suka mencela dan ringan tangan. Saat terjadi kesalahan yang tak disengaja seperti terjadi kerusakan barang, sang majikan tidak segan-segan memarahi bahkan dimintai ganti lewat pemotongan gaji. Bukan hanya itu, tak ada kata libur dari sang majikan bagi Eka.

Akhirnya, selang beberapa bulan kemudian, Eka bisa bernapas lega setelah mendapat majikan yang baru. Pekerjaan yang ia lakukan merawat orang jompo. Saat itu, ia diperlakukan secara manusiawi. Bahkan, setiap Ahad dan tanggal merah setempat ia diberikan libur. Sampai suatu ketika, ia mengenal Dompet Dhuafa Hong Kong dan mengetahui informasi tentang Institut Kemandirian.

“Setiap Ahad saya sering mengikuti kajian di Dompet Dhuafa Hong Kong. Dari sinilah saya mengetahui informasi pelatihan di Institut Kemandirian,” jelasnya.

Empat tahun bekerja di majikan kedua, kerinduan untuk pulang dan menetap di kampung halaman dirasakan Eka. Ia memutuskan untuk membuka usaha sepulang dari Hong Kong. Setelah kembali ke tanah air, ia tak langsung pulang ke Ponorogo, Jawa Timur. Ia memilih langsung mengikuti pelatihan menjahit di IK Dompet Dhuafa. Selama kurang lebih dua bulan Eka berlatih menjahit di sana.

“Saya bergabung di Institut Kemandirian pada 2011. Saya tidak menghadapi banyak kesulitan belajar menjahit karena dulu jurusan SMK saya juga fashion dan desain,” terangnya.

Setelah selesai mengikuti pelatihan, ia bertekad untuk mewujudkan mimpi-mimpinya mengembangkan pengalaman dan keterampilan yang dimiliki untuk memajukan kampung halamannya Ponorogo. Dukungan keluarga besar diberikan terhadap Eka, hingga akhirnya uang simpanan yang ia miliki digunakan untuk  memperbaiki kondisi keluarga dan sisanya digunakan sebagai modal berwirausaha.

Langkah awal yang dilakukan adalah membeli peralatan jahit. Ia membeli tiga mesin jahit. Bermodal mesin jahit itu ia juga menerima pesanan pakaian dan membuka pelatihan menjahit. Dalam melatih, Eka tak memungut biaya sama sekali.

“Setiap ada anak muda yang menganggur dan punya iktikad baik untuk berlatih, saya persilakan bergabung,” ujarnya.

Awalnya hanya sedikit yang berminat ikut pelatihan menjahit. Namun, lambat laun akhirnya banyak muda-mudi yang tertarik dengan ajakannya. Selain itu Eka juga bersyukur dengan adanya dukungan dari Dompet Dhuafa yang memberikan sembilan unit mesin jahit yang semakin mewujudkan mimpinya selama ini.

“Alhamdulillah, saya hanya bisa berucap rasa syukur kepada Allah, melalui Dompet Dhuafa saya bisa mewujudkan mimpi saya, memberdayakan kampung halaman saya,” tutupnya bahagia. (uyang/gie)

Source : di sini

Sabtu, 17 November 2012

Pertemuan Nasional KAMI (Keluarga Alumni Migran Indonesia)

 


Migrant Institute Dompet Dhuafa Gelar Pertemuan KAMI Tingkat Nasional

Jogjakarta, 17 November 2012


Sebagai bentuk keprihatinan dan keseriusan Migrant Institute Dompet Dhuafa ( MI-DD) terhadap BMI Purna, khususnya Purna Hong Kong, MI DD menggelar Pertemuan Nasional Keluarga Alumni Migran Indonesia (KAMI) di Jogyakarta, pada Hari Sabtu-Minggu, 17-18 November 2012.

Pertemuan tersebut dihadiri 30 Buruh Migran Indonesia (BMI) purna yang pernah bekerja di Hong Kong.
Direktur Migrant Institute, Adi Candra Utama menuturkan pertemuan ini untuk membuktikan komitmen Migrant Institute dan secara umum Dompet Dhuafa dalam ikhtiar pengembangan kapasitas sumber daya manusia. “Terutama dalam pengembangan kemandirian kapasitas buruh migran Indonesia purna. Karena kita tahu sebenarnya Dompet Dhuafa sudah lama bekerja pada isu buruh migran,” ujar Adi.
 

Namun, imbuh Adi, ikhtiar yang dilakukan selama ini masih berada di wilayah negara penempatan buruh migran. “Oleh karena itu, pertemuan ini digelar untuk menuntaskan ikhtiar ini. Bagaimana sentuhan-sentuhan yang diberikan selama ini di negara tempat mereka bekerja bisa berlanjut di Indonesia,” paparnya.
 

Target pertemuan tersebut ialah terbentuk satu wadah para BMI Purna dan keluarganya yang memutuskan mata rantai agar  tidak lagi menjadi buruh migran . Selanjutnya, mereka memutuskan untuk membangun satu kondisi kemandirian di tanah kelahirannya, Indonesia.

Kemandirian BMI purna ini memang menjadi fokus diskusi pertemuan. General Manager Relief Dompet Dhuafa, Bambang Suherman mengatakan usaha memandirikan BMI Purna belum optimal.
“Memandirikan BMI adalah ‘lubang’ yg belum diperhatikan pada peta kelola BMI pascabalik ke Indonesia,” terang Bambang.

Lebih lanjut Bambang menjelaskan, Dompet Dhuafa melalui Migrant Institute memfasilitasi para BMI Purna dengan berbagai penyaluran. “Ruang aktualisasi teman-teman BMI Purna ini apakah memang hanya membuat bisnis saja? Kan enggak,” imbuhnya.


Padahal, migran dalam lingkup pemberdayaan tidak hanya soal bisnis atau berdagang. “Salah satunya ada ruang pendidikan yang harusnya bisa menjadi media, aktualisasi diri dan masih banyak ruang lainnya,” imbuh Bambang.


Setelah sekian tahun di luar negeri, BMI Purna diharapkan dapat mengembangkan potensi kemampuan resisten atau bertahannya. Dengan modal tersebut sejatinya mereka bisa mandiri dan berkembang jauh dibanding saat menjadi BMI.


Kali ini dari KAMI Ponorogo diwakili oleh Mbak Sulistyoningsih selaku Koordinator Simpul Daerah yang saat ini menjadi Ketua KAMI Ponorogo, Mbak Tri W yang menjadi pengurus KAMI Ponorogo dan Mbak Uswatun Khasanah dari Madiun yang juga gabung di KAMI Ponorogo.

Harapan KAMI Ponorogo, semoga ke depan membawa segala kebaikan
dan  keberkahan.
Dan semoga segalanya diberi kelancaran oleh - Nya sehingga apa yang KAMI harapkan bisa terealisasi , NYATA TERWUJUD. Aamiin Yaa Robb
Ciayoooooo .... Kayaooooo ..... Semangat ALL ...
Barokalloh


https://www.facebook.com/kami.ponorogo/media_set?set=a.1458922744327840.100006303843718&type=3
http://www.dompetdhuafa.org/meniti-kemandirian-bmi-purna-migrant-institute-gelar-temu-nasional/