![]() |
| Eka dan teman (sekaligus murid mejahitnya) di desa |
“Saya sebenarnya ingin membuka industri jahit di
sana tetapi tidak didukung oleh sumber daya manusia yang memadai juga dengan
modal usaha,” ujar perempuan yang akrab disapa Eka ini.
Sebagai anak pertama dari keluarga petani yang
memiliki keterbatasan ekonomi, perempuan kelahiran Ponorogo ini menjadi
tulang punggung harapan keluarga. Padahal, ia bercita-cita melanjutkan
pendidikan lebih tinggi setelah lulus Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Mimpi
tersebut terpaksa kandas.
“Sempat ingin melanjutkan sekolah, tapi ngga
ada biaya. Ya, saya usaha cari kerja waktu itu, maklum anak pertama,” ujarnya.
Mencari pekerjaan tak semudah yang dibayangkan
Eka. Kesulitan demi kesulitan ia hadapi. Hingga pada 2003 ia berangkat ke Hong
Kong mengadu nasib menjadi tenaga kerja di luar negeri (TKI). Baginya, menjadi
TKI menjadi pilihan terakhir karena sulitnya mencari pekerjaan di tanah air.
“Jujur saja, bekerja di luar negeri bagi saya
merupakan pilihan terakhir karena sudah mencari pekerjaan di tanah air sangat
sulit,” kenangnya bercerita.
Kesulitan yang menerpa Eka masih terus berlanjut.
Dua tahun pertama bekerja di Hongkong menjadi seorang pengasuh anak, ia merasa
tak nyaman. Ia mendapatkan majikan yang suka mencela dan ringan tangan. Saat
terjadi kesalahan yang tak disengaja seperti terjadi kerusakan barang, sang
majikan tidak segan-segan memarahi bahkan dimintai ganti lewat pemotongan gaji.
Bukan hanya itu, tak ada kata libur dari sang majikan bagi Eka.
Akhirnya, selang beberapa bulan kemudian, Eka
bisa bernapas lega setelah mendapat majikan yang baru. Pekerjaan yang ia
lakukan merawat orang jompo. Saat itu, ia diperlakukan secara manusiawi.
Bahkan, setiap Ahad dan tanggal merah setempat ia diberikan libur. Sampai suatu
ketika, ia mengenal Dompet Dhuafa Hong Kong dan mengetahui informasi tentang
Institut Kemandirian.
“Setiap Ahad saya sering mengikuti kajian di
Dompet Dhuafa Hong Kong. Dari sinilah saya mengetahui informasi pelatihan di
Institut Kemandirian,” jelasnya.
Empat tahun bekerja di majikan kedua, kerinduan
untuk pulang dan menetap di kampung halaman dirasakan Eka. Ia memutuskan untuk
membuka usaha sepulang dari Hong Kong. Setelah kembali ke tanah air, ia tak
langsung pulang ke Ponorogo, Jawa Timur. Ia memilih langsung mengikuti
pelatihan menjahit di IK Dompet Dhuafa. Selama kurang lebih dua bulan Eka
berlatih menjahit di sana.
“Saya bergabung di Institut Kemandirian pada
2011. Saya tidak menghadapi banyak kesulitan belajar menjahit karena dulu
jurusan SMK saya juga fashion dan desain,” terangnya.
Setelah selesai mengikuti pelatihan, ia bertekad
untuk mewujudkan mimpi-mimpinya mengembangkan pengalaman dan keterampilan
yang dimiliki untuk memajukan kampung halamannya Ponorogo. Dukungan keluarga
besar diberikan terhadap Eka, hingga akhirnya uang simpanan yang ia miliki
digunakan untuk memperbaiki kondisi keluarga dan sisanya digunakan
sebagai modal berwirausaha.
Langkah awal yang dilakukan adalah membeli
peralatan jahit. Ia membeli tiga mesin jahit. Bermodal mesin jahit itu ia juga
menerima pesanan pakaian dan membuka pelatihan menjahit. Dalam melatih, Eka tak
memungut biaya sama sekali.
“Setiap ada anak muda yang menganggur dan punya
iktikad baik untuk berlatih, saya persilakan bergabung,” ujarnya.
Awalnya hanya sedikit yang berminat ikut
pelatihan menjahit. Namun, lambat laun akhirnya banyak muda-mudi yang tertarik
dengan ajakannya. Selain itu Eka juga bersyukur dengan adanya dukungan dari
Dompet Dhuafa yang memberikan sembilan unit mesin jahit yang semakin mewujudkan
mimpinya selama ini.
“Alhamdulillah, saya hanya bisa berucap rasa
syukur kepada Allah, melalui Dompet Dhuafa saya bisa mewujudkan mimpi saya,
memberdayakan kampung halaman saya,” tutupnya bahagia. (uyang/gie)
Source : di sini

Tidak ada komentar:
Posting Komentar