Selasa, 17 Desember 2013

Jumhur Buka Kongres dan Seminar Buruh Migran

Jumhur Buka Kongres dan Seminar Buruh Migran

Cetak
Selasa, 17 Desember 2013 15:18

Share

Kepala BNP2TKI Moh Jumhur Hidayat

Jakarta, BNP2TKI, Selasa (17/12) - Kepala BNP2TKI Moh Jumhur Hidayat membuka Kongres dan Seminar Nasional Buruh Migran Indonesia (BMI) di Gedung Yayasan Tenaga Kerja Indonesia, Jakarta, Selasa (17/12).

Kegiatan yang diadakan oleh Dompet Dhuafa pada 16-17 Desember ini diikuti 10 organisasi BMI yaitu Migrant Institute, Serikat BMI, Keluarga Migran Indonesia, Mawar Balqis, Seruni, Jaringan Mekarwangi, Lembaga Perlindungan Anak Cirebon, SBM Gasbindo, KBMM, dan Forum Purna TKI Jawa Barat.

Menurut Jumhur, hasrat untuk berubah yang begitu tinggi itu terus menyala sejak TKI berangkat hingga kepulangannya. Hasrat ini merupakan modal utama yang harus dikelola oleh para Non Governmental Organization/NGO, perbankan, aktivis BMI dan stakeholder terkait lainnya.

Dijelaskannya, dari tekad untuk maju ini usaha yang dikelola oleh mantan TKI ini akan beda dengan usaha yang masyarakat pada umumnya.

BNP2TKI melalui direktorat pemberdayaan sejak lama sudah melatih ribuan TKI Purna dan Keluarga TKI terkait bidang edukasi kewirausahaan, keuangan dan manajemen di seluruh Indonesia. Melalui program ini sudah ribuan TKI Purna yang menjadi wirausaha baru di wilayahnya masing-masing.

Berbicara pada Seminar Nasional bertajuk "Meretas Jalan Kemandirian" ini, Jumhur mengatakan bahwa BNP2TKI mendorong terbentuknya Forum Pemangku Kepentingan TKI Purna beranggotakan kampus, perbankan, dann Corporate Social Responsibility/CSR dari stakeholder terkait.

Jumhur mengatakan, usaha-usaha TKI Purna ini tergolong dalam kelompok Usaha Menengak Kecil Mikro/UMKM. Saat ini, porsi UMKM masih kurang dari 60 persen dari 99 juta UKM di seluruh Indonesia.

Hingga kini alokasi perbankan untuk UMKM ini sebesar Rp28 trilyun atau sebesar 20 persen dari total 99 juta UMKM. "Hanya 20 persen usaha TKI purna dan UMKM lainnya yang kurang mendapat kredit usaha kecil," bebernya.

Kepada Adi Chandra, Direktur Eksekutif Migrant Care Institute dan kesepuluh organisasi BMI, Jumhur mendorong mereka untuk bekerjasama dengan Otoritas Jasa Keuangan/OJK, Bank Indonesia, lembaga pendana dari dalam dan luar negeri. "Kami siap bantu merekomendasikan lembaga pendana baik nasional maupun internasional," paparnya.

Kepala BNP2TKI mengakui masih banyak kekurangan dan perlunya kritik dari NGO. "Saya bukan Superman," tambahnya.

Jumhur menjelaskan, bahwa kritik ini penting karena hingga kini negara belum secara optimum membalas jasa TKI. [*]
"Kritik diperlukan agar pemerintah terus bekerja meningkatkan kesejahteraan TKI dan keluarganya," paparnya.

Sebelumnya, kesepuluh organisasi BMI ini mendeklarasikan Gerakan Buruh Migran Indonesia Berdaya. Gerakan ini sebagai upaya sistematis, komprehensif dan terintegrasi untuk memastikan potensi ekonomi BMI menjadi aset bagi lahirnya kemandirian BMI dan keluarganya. Dalam jangka panjang gerakan ini menjadi pondasi bagi kekuatan ekonomi bangsa.

Ada 3 sikap yang disepakati. Pertama, kemandirian ekonomi BMI dan keluarganya dalam sistem perlindungan BMI.

Kedua, kemandirian ekonomi BMI dan keluarganya adalah tanggungjawab dan memerlukan komitmen seluruh pihak.

Ketiga, kemandirian ekonomi BMI dan keluarganya harus menjadi substansi kebijakan. baru dalam tata kelola BMI melalui revisi UU No. 39 tahun 2004. (Zul/Rif)

Sumber : bnp2tki

Jumat, 05 Juli 2013

BMI Purna, anggota KAMI Ponorogo Berdayakan Pemudi Desa


Eka dan teman (sekaligus murid mejahitnya) di desa


Berawal dari keprihatinan atas kondisi warga di kampung halamannya, Desa Keben Josari Jetis, Ponorogo, Jawa Timur, Winarti Eka Lidyawati (33) terpanggil untuk bergerak. Salah satu alumnus pelatihan menjahit Institut Kemandirian (IK) Dompet Dhuafa ini membuka sebuah sentra pelatihan menjahit “Sangar Busana DD Eka”. Awalnya, keraguan ia rasakan.

“Saya sebenarnya ingin membuka industri jahit di sana tetapi tidak didukung oleh sumber daya manusia yang memadai juga dengan modal usaha,” ujar perempuan yang akrab disapa Eka ini.

Sebagai anak pertama dari keluarga petani yang memiliki keterbatasan ekonomi, perempuan kelahiran  Ponorogo ini menjadi tulang punggung harapan keluarga. Padahal,  ia bercita-cita melanjutkan pendidikan lebih tinggi setelah lulus Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Mimpi tersebut terpaksa kandas.

“Sempat ingin melanjutkan sekolah, tapi ngga ada biaya. Ya, saya usaha cari kerja waktu itu, maklum anak pertama,” ujarnya.

Mencari pekerjaan tak semudah yang dibayangkan Eka. Kesulitan demi kesulitan ia hadapi. Hingga pada 2003 ia berangkat ke Hong Kong mengadu nasib menjadi tenaga kerja di luar negeri (TKI). Baginya, menjadi TKI menjadi pilihan terakhir karena sulitnya mencari pekerjaan di tanah air.

“Jujur saja, bekerja di luar negeri bagi saya merupakan pilihan terakhir karena sudah mencari pekerjaan di tanah air sangat sulit,” kenangnya bercerita.

Kesulitan yang menerpa Eka masih terus berlanjut. Dua tahun pertama bekerja di Hongkong menjadi seorang pengasuh anak, ia merasa tak nyaman. Ia mendapatkan majikan yang suka mencela dan ringan tangan. Saat terjadi kesalahan yang tak disengaja seperti terjadi kerusakan barang, sang majikan tidak segan-segan memarahi bahkan dimintai ganti lewat pemotongan gaji. Bukan hanya itu, tak ada kata libur dari sang majikan bagi Eka.

Akhirnya, selang beberapa bulan kemudian, Eka bisa bernapas lega setelah mendapat majikan yang baru. Pekerjaan yang ia lakukan merawat orang jompo. Saat itu, ia diperlakukan secara manusiawi. Bahkan, setiap Ahad dan tanggal merah setempat ia diberikan libur. Sampai suatu ketika, ia mengenal Dompet Dhuafa Hong Kong dan mengetahui informasi tentang Institut Kemandirian.

“Setiap Ahad saya sering mengikuti kajian di Dompet Dhuafa Hong Kong. Dari sinilah saya mengetahui informasi pelatihan di Institut Kemandirian,” jelasnya.

Empat tahun bekerja di majikan kedua, kerinduan untuk pulang dan menetap di kampung halaman dirasakan Eka. Ia memutuskan untuk membuka usaha sepulang dari Hong Kong. Setelah kembali ke tanah air, ia tak langsung pulang ke Ponorogo, Jawa Timur. Ia memilih langsung mengikuti pelatihan menjahit di IK Dompet Dhuafa. Selama kurang lebih dua bulan Eka berlatih menjahit di sana.

“Saya bergabung di Institut Kemandirian pada 2011. Saya tidak menghadapi banyak kesulitan belajar menjahit karena dulu jurusan SMK saya juga fashion dan desain,” terangnya.

Setelah selesai mengikuti pelatihan, ia bertekad untuk mewujudkan mimpi-mimpinya mengembangkan pengalaman dan keterampilan yang dimiliki untuk memajukan kampung halamannya Ponorogo. Dukungan keluarga besar diberikan terhadap Eka, hingga akhirnya uang simpanan yang ia miliki digunakan untuk  memperbaiki kondisi keluarga dan sisanya digunakan sebagai modal berwirausaha.

Langkah awal yang dilakukan adalah membeli peralatan jahit. Ia membeli tiga mesin jahit. Bermodal mesin jahit itu ia juga menerima pesanan pakaian dan membuka pelatihan menjahit. Dalam melatih, Eka tak memungut biaya sama sekali.

“Setiap ada anak muda yang menganggur dan punya iktikad baik untuk berlatih, saya persilakan bergabung,” ujarnya.

Awalnya hanya sedikit yang berminat ikut pelatihan menjahit. Namun, lambat laun akhirnya banyak muda-mudi yang tertarik dengan ajakannya. Selain itu Eka juga bersyukur dengan adanya dukungan dari Dompet Dhuafa yang memberikan sembilan unit mesin jahit yang semakin mewujudkan mimpinya selama ini.

“Alhamdulillah, saya hanya bisa berucap rasa syukur kepada Allah, melalui Dompet Dhuafa saya bisa mewujudkan mimpi saya, memberdayakan kampung halaman saya,” tutupnya bahagia. (uyang/gie)

Source : di sini