Seminar Kemandirian BMI Purna :
Bahagia di Negeri Sendiri
 |
| Seminar "Bahagia di Negeri Sendiri" |
Ponorogo, KAMI, 05/05/2014. Prihatin
dan peduli terhadap nasih Buruh Migran Indonesia (BMI) Purna yang sudah berada
di Indonesia maupun BMI yang masih di luar negeri melatarbelakangi dibentuknya Keluarga
Migran Indonesia (KAMI) Ponorogo. Komunitas ini dibina oleh Migrant Institute-Dompet
Dhuafa.
KAMI yang beranggotakan mantan
TKI (BMI Purna) dari seluruh negara penempatan , BMI yang masih di luar negeri
dan keluarganya mengadakan acara Seminar Kemandirian bagi BMI Purna dan
keluarganya dengan tema “Bahagia di Negeri Sendiri” di Balai Desa Kupuk, Kecamatan
Bungkal, Ponorogo, Minggu (04/05/2014).
Kegiatan ini dihadiri oleh BMI Purna
dan keluarga BMI. Acara ini sedianya akan dihadiri oleh Bapak Sumani, Kepala
Dinsosnakertrans Ponorogo tetapi karena terbentur dengan pendidikan S3-nya
sehingga beliau tidak bisa hadir. Turut hadir pula Ibu Kepala Desa Kupuk – Sunarti, Bapak Katiran - salah seorang mantan BMI Sukses
serta perwakilan dari PJTKI – Budi Sumanto. Acara ini disponsori oleh Migrant Institute
- Dompet Dhuafa .
Dalam kesempatan
itu, perwakilan Koordinator KAMI Ponorogo, Tri Wahyuni menyampaikan semoga dengan acara seperti ini,
BMI Purna bisa saling mengenal, bersilaturahmi dan bekerja sama. “Angka
perceraian di Kantor Pengadilan Agama Ponorogo juga tergolong tinggi dan mayoritas
dari kalangan TKI. Semoga dengan adanya acara ini diharapkan mampu mengurangi
hal-hal negatif yang sering terjadi dengan mengajak semua pihak (keluarga TKI) untuk
mau dan mampu melaksanakan peran dan tanggung jawabnya masing-masing sehingga
tercipta keluarga yang sakinah, mawaddah, warohmah, penuh berkah meskipun salah
satu anggota keluarga berada jauh di luar negeri”, imbuhnya.
Ibu Kepala Desa Kupuk, Sunarti menyatakan
sangat senang dan memberikan apresiasi positif terhadap program KAMI
Ponorogo. “Terlebih saya juga mantan TKI (Hongkong)”, ujarnya. Diharapkan pula
mampu merubah mindset TKI dan keluarganya tentang apa yang seharusnya dilakukan
sepulang menjadi TKI yaitu mampu mengumpulkan modal dengan benar dan membuka
usaha. Beliau juga siap memberi dukungan dengan acara ini dan siap menghubungkan
pihak terkait jika sewaktu-waktu dibutuhkan, dan menurutnya akan lebih baik
pula jika disinergikan dengan kelompok ibu PKK atau perkumpulan lainnya yang
notabene banyak TKI ataupun keluarganya
di desa setempat.
Seminar dibawakan oleh Dosen Universitas Muhammadiyah Ponorogo
sekaligus Manajer KAMI Center Ponorogo, Rohmadi M.Pi. dimulai dengan sosialisasi
pengenalan KAMI, program kerja dan tujuan didirikannya. Mencegah dan menahan
warga untuk tidak bekerja ke luar negeri tidak mungkin. Seminar ini diadakan
untuk memberi mindset bahwa “Sukses harus ditetapkan, selangkah demi selangkah
dengan memikirkan cara. Orang hidup harus punya tujuan, sedangkan cara bisa
dicari, tapi jangan sampai menghalalkan cara demi tujuan”, tandasnya. TKI harus punya prinsip yang kuat mengenai
tujuannya dan batasan masa kerja, sehingga diharapkan sebelum berangkat menjadi
TKI diharapkan kita harus mempunyai tujuan sehingga pulang sudah terencana
dengan baik tentang apa yang dilakukan selanjutnya sehingga sukses setelah
pulang dari luar negeri dan kembali ke kampung halamannya. Semua itu tidak lepas
dari tujuan dan komitmen awal, bekerja dengan baik, belajar mengikuti kegiatan
yang bermanfaat dan harus bisa menabung mengumpulkan modal.
Jangan sampai bekerja di sana berlama
– lama, diikuti hura – hura, suami/istri diurus tetangga, keluarga terbengkalai
tak terjaga. Di sana 6 tahun, pulang hanya ketemu dan tak bisa melepas rindu. Disharmoni
hubungan dengan suami/istri dan keluarganya merupakan problema yang sering
terjadi di masyarakat kita. Kenakalan anak-anak BMI karena pergaulan bebas
tanpa pengawasan orangtua. Dan setelah pulang, BMI merasa tidak memiliki usaha
dan banyak yang lemah manajemen keuangan. Masalah- masalah nyata seperti inilah
yang seharusnya kita atasi bersama.
Tentunya, harapan kita semua
adalah keluarga yang utuh, pekerjaan yang baik dan tercapainya tujuan keluarga
kita. Tetapi ... Mungkinkah? Yah, mungkin dan bisa dengan cara mempertahankan
keharmonisan keluarga “ karena keluarga dan anak-anak adalah aset hidup yang
besar yang sangat berarti bagi kita”. Dan yang selanjutnya kita lakukan adalah
menata ulang pekerjaan “karena yang dibutuhkan tidak hanya jumlah penghasilan
yang banyak, tetapi penghasilan yang tidak merusak keluarga dan tujuan hidup”.
Dengan bergabung dengan orang-orang yang senasib agar menjadi kuat dan
berkonsultasi di bidang usaha dan keluarga aga menjadi terarah”, pungkasnya.
Acara selanjutnya penuturan salah
seorang mantan TKI Malaysia yang kini menjadi supplier baju di pasar-pasar yang
ada di Ponorogo, Bapak Katiran. Dulu pernah illegal dan mengusik kebebasannya
karena tak berdokumen lengkap dan penuh rasa takut bila tertangkap. Aset mahal
dari TKI yaitu hasrat berubah. Aset ini perlu dijaga dan dipertahankan setelah
para TKI itu kembali ke tanah air. Karena itu, kepada mantan TKI dan
keluarganya yang hadir Bapak Katiran meminta untuk terus memompa semangat para
TKI Purna ini untuk berkarya di bidang ekonomi produktif – berwirausaha di kampung
halaman sehingga bisa bahagia di negeri sendiri. Kalo sudah di rumah, usahakan
jangan lagi jadi TKI, berwirausaha ciptakan lapangan kerja sendiri. Jika
terpaksa berangkat, harus punya tujuan dan prinsip yang kuat biar terkoordinasi
sepulang nanti.
Ditambahkan pula oleh Budi
Sumanto, perwakilan PJTKI yang peduli dengan BMI, yang menceritakan tentang berbagai
macam masalah atau kasus yang dihadapi TKI yang kurang beruntung dari sebelum
pemberangkatan hingga pulang ke kampung halaman seperti terjadi kekerasan fisik, pelecehan seksual,
pemerasan para calo, pengurangan gaji, sakit, kematian, problrma rumah tangga, pungli
di bandara, agen travel yang meminta pungli dan sebagainya yang seringkali
tidak terselesaikan dengan baik oleh pihak yang berwajib. Disampaikan pula
tidak sedikit TKI yang beruntung, sehingga sukses setelah pulang dari luar
negeri dan kembali ke kampung halamannya. Semua itu tidak lepas dari tujuan dan
komitmen awal, prinsip yang kuat yang dijalankannya. Budi juga berpesan agar TKI
jangan jadi TKI illegal, harus bisa membawa diri, jangan sampai terpengaruh
budaya kebaratan yang buruk, sebaiknya carilah peluang hal baik yang bisa
dipelajari.
Terlihat peserta sangat antusias
mengikuti setiap sesi acara dan mereka benar-benar mengharapkan adanya tindak
lanjut yang riil atas diselenggarakannya acara ini. Semoga ada pihak / dinas
terkait yang memberi ruang dan memfasilitasi pelatihan usaha yang dibutuhkan ke
depannya. Semoga saja. Aamiin. (Seftyna/KAMI/PO).