Rabu, 28 Mei 2014

Volunteer DDHK Bantu Dhuafa di Ponorogo


Ruli memberikand dana bantuan pada Jaswadi di di rumah Kades Mrayan 
Menengok Suprianto (lumpuh) dan Jaswadi yang kini bekerja di rumah Rumah Kades Mrayan

Ponorogo – Volunteer Dompet Dhuafa Hong Kong (DDHK) memberikan bantuan kepada Jaswadi, warga dusun Krajan, Desa Mrayan, Kecamatan Ngrayun, Kab. Ponorogo, yang puluhan tahun merawat dua saudaranya yang lumpuh.

Dana sebesar Rp 3 juta hasil iuran BMI Hong Kong volunteer (relawan) DDHK itudisampaikan langsung oleh Siti Ruliyah (eks volunteer DDHK) yang sekarang juga menjadi pengurus KAMI (Keluarga Migran Indonesia) Ponorogo, Siti Ruliyah Selasa (27/5), di rumah Kepala Desa Ngrayun Ponorogo.
“Dana yang terkumpul sebanyak tiga juta rupiah tersebut diserahkan langsung kepada Jaswadi dan disaksikan oleh Kepala Desa,” katanya Ruliyah.
Disampaikan pula, dana bantuan yang datang untuk Jaswadi dan adiknya, Suprianto, dikelola oleh Kepala Desa dan disaksikan oleh keluarga Jaswadi serta warga setempat. Semua catatan ada di kelurahan.
Kepala Desa Ngrayun selalu mendampingi Jaswadi dan keluarganya. “Selain itu Jaswadi juga diberi pekerjaan di rumah kepala desa,” tuturnya.
Sebelumnya, Ruli telah mengadakan kunjungan pada tanggal 17 April sebagai aksi tanggap dari DDHK yang peduli dengan kaum dhuafa. Saat itu kakak Jaswadi yang bernama Wiji baru saja meninggal dan Jaswadi sendiri mengalami depresi karena ditinggal pergi oleh istri dan anaknya.

Suprianto dirawat oleh adik ipar Jaswadi. Sekarang Jaswadi sudah sehat serta ingatannya sudah pulih dan bisa merawat adiknya sendiri. Dana sumbangan dari berbagai pihak sebagian untuk membangun rumah layak huni untuk mereka dan sebagian untuk berobat Jaswadi.
Jaswadi makan sehari-hari di rumah Pak Kades karena ia bekerja di sana. Adiknya pun dibawakan makanan dari sana.
Mewakili Jaswadi, Kades Ngrayun mengucapkan terima kasih kepada volunteer Dompet Dhuafa Hong Kong yang telah memberikan bantuan. “Pak Lurah berharap doa dari teman-teman, semoga Jaswadi dan Suprianto tetap sehat serta istri dan anaknya kembali ke Jaswadi,” kata Ruliyah. (Amy Utamy/ddhongkong/KAMI PO).*

Selasa, 06 Mei 2014

Seminar Kemandirian BMI Purna - Ponorogo

Seminar Kemandirian BMI Purna : Bahagia di Negeri Sendiri



Seminar "Bahagia di Negeri Sendiri"

Ponorogo, KAMI, 05/05/2014. Prihatin dan peduli terhadap nasih Buruh Migran Indonesia (BMI) Purna yang sudah berada di Indonesia maupun BMI yang masih di luar negeri melatarbelakangi dibentuknya Keluarga Migran Indonesia (KAMI) Ponorogo. Komunitas ini dibina oleh Migrant Institute-Dompet Dhuafa.

KAMI yang beranggotakan mantan TKI (BMI Purna) dari seluruh negara penempatan , BMI yang masih di luar negeri dan keluarganya mengadakan acara Seminar Kemandirian bagi BMI Purna dan keluarganya dengan tema “Bahagia di Negeri Sendiri” di Balai Desa Kupuk, Kecamatan Bungkal, Ponorogo, Minggu (04/05/2014).

Kegiatan ini dihadiri oleh BMI Purna dan keluarga BMI. Acara ini sedianya akan dihadiri oleh Bapak Sumani, Kepala Dinsosnakertrans Ponorogo tetapi karena terbentur dengan pendidikan S3-nya sehingga beliau tidak bisa hadir.  Turut hadir  pula Ibu Kepala Desa Kupuk – Sunarti,  Bapak Katiran - salah seorang mantan BMI Sukses serta perwakilan dari PJTKI – Budi Sumanto. Acara ini disponsori oleh Migrant Institute - Dompet Dhuafa .

Dalam kesempatan itu, perwakilan Koordinator KAMI Ponorogo, Tri Wahyuni  menyampaikan semoga dengan acara seperti ini, BMI Purna bisa saling mengenal, bersilaturahmi dan bekerja sama. “Angka perceraian di Kantor Pengadilan Agama Ponorogo juga tergolong tinggi dan mayoritas dari kalangan TKI. Semoga dengan adanya acara ini diharapkan mampu mengurangi hal-hal negatif yang sering terjadi dengan mengajak semua pihak (keluarga TKI) untuk mau dan mampu melaksanakan peran dan tanggung jawabnya masing-masing sehingga tercipta keluarga yang sakinah, mawaddah, warohmah, penuh berkah meskipun salah satu anggota keluarga berada jauh di luar negeri”, imbuhnya.

Ibu Kepala Desa Kupuk, Sunarti menyatakan  sangat senang dan memberikan apresiasi positif terhadap program KAMI Ponorogo. “Terlebih saya juga mantan TKI (Hongkong)”, ujarnya. Diharapkan pula mampu merubah mindset TKI dan keluarganya tentang apa yang seharusnya dilakukan sepulang menjadi TKI yaitu mampu mengumpulkan modal dengan benar dan membuka usaha. Beliau juga siap memberi dukungan dengan acara ini dan siap menghubungkan pihak terkait jika sewaktu-waktu dibutuhkan, dan menurutnya akan lebih baik pula jika disinergikan dengan kelompok ibu PKK atau perkumpulan lainnya yang notabene  banyak TKI ataupun keluarganya di desa setempat.

Seminar dibawakan oleh  Dosen Universitas Muhammadiyah Ponorogo sekaligus Manajer KAMI Center Ponorogo, Rohmadi M.Pi. dimulai dengan sosialisasi pengenalan KAMI, program kerja dan tujuan didirikannya. Mencegah dan menahan warga untuk tidak bekerja ke luar negeri tidak mungkin. Seminar ini diadakan untuk memberi mindset bahwa “Sukses harus ditetapkan, selangkah demi selangkah dengan memikirkan cara. Orang hidup harus punya tujuan, sedangkan cara bisa dicari, tapi jangan sampai menghalalkan cara demi tujuan”, tandasnya.  TKI harus punya prinsip yang kuat mengenai tujuannya dan batasan masa kerja, sehingga diharapkan sebelum berangkat menjadi TKI diharapkan kita harus mempunyai tujuan sehingga pulang sudah terencana dengan baik tentang apa yang dilakukan selanjutnya sehingga sukses setelah pulang dari luar negeri dan kembali ke kampung halamannya. Semua itu tidak lepas dari tujuan dan komitmen awal, bekerja dengan baik, belajar mengikuti kegiatan yang bermanfaat dan harus bisa menabung mengumpulkan modal.

Jangan sampai bekerja di sana berlama – lama, diikuti hura – hura, suami/istri diurus tetangga, keluarga terbengkalai tak terjaga. Di sana 6 tahun, pulang hanya ketemu dan tak bisa melepas rindu. Disharmoni hubungan dengan suami/istri dan keluarganya merupakan problema yang sering terjadi di masyarakat kita. Kenakalan anak-anak BMI karena pergaulan bebas tanpa pengawasan orangtua. Dan setelah pulang, BMI merasa tidak memiliki usaha dan banyak yang lemah manajemen keuangan. Masalah- masalah nyata seperti inilah yang seharusnya kita atasi bersama.

Tentunya, harapan kita semua adalah keluarga yang utuh, pekerjaan yang baik dan tercapainya tujuan keluarga kita. Tetapi ... Mungkinkah? Yah, mungkin dan bisa dengan cara mempertahankan keharmonisan keluarga “ karena keluarga dan anak-anak adalah aset hidup yang besar yang sangat berarti bagi kita”. Dan yang selanjutnya kita lakukan adalah menata ulang pekerjaan “karena yang dibutuhkan tidak hanya jumlah penghasilan yang banyak, tetapi penghasilan yang tidak merusak keluarga dan tujuan hidup”. Dengan bergabung dengan orang-orang yang senasib agar menjadi kuat dan berkonsultasi di bidang usaha dan keluarga aga menjadi terarah”, pungkasnya.

Acara selanjutnya penuturan salah seorang mantan TKI Malaysia yang kini menjadi supplier baju di pasar-pasar yang ada di Ponorogo, Bapak Katiran. Dulu pernah illegal dan mengusik kebebasannya karena tak berdokumen lengkap dan penuh rasa takut bila tertangkap. Aset mahal dari TKI yaitu hasrat berubah. Aset ini perlu dijaga dan dipertahankan setelah para TKI itu kembali ke tanah air. Karena itu, kepada mantan TKI dan keluarganya yang hadir Bapak Katiran meminta untuk terus memompa semangat para TKI Purna ini untuk berkarya di bidang ekonomi produktif – berwirausaha di kampung halaman sehingga bisa bahagia di negeri sendiri. Kalo sudah di rumah, usahakan jangan lagi jadi TKI, berwirausaha ciptakan lapangan kerja sendiri. Jika terpaksa berangkat, harus punya tujuan dan prinsip yang kuat biar terkoordinasi sepulang nanti.

Ditambahkan pula oleh Budi Sumanto, perwakilan PJTKI yang peduli dengan BMI, yang menceritakan tentang berbagai macam masalah atau kasus yang dihadapi TKI yang kurang beruntung dari sebelum pemberangkatan hingga pulang ke kampung halaman seperti  terjadi kekerasan fisik, pelecehan seksual, pemerasan para calo, pengurangan gaji, sakit, kematian, problrma rumah tangga, pungli di bandara, agen travel yang meminta pungli dan sebagainya yang seringkali tidak terselesaikan dengan baik oleh pihak yang berwajib. Disampaikan pula tidak sedikit TKI yang beruntung, sehingga sukses setelah pulang dari luar negeri dan kembali ke kampung halamannya. Semua itu tidak lepas dari tujuan dan komitmen awal, prinsip yang kuat yang dijalankannya. Budi juga berpesan agar TKI jangan jadi TKI illegal, harus bisa membawa diri, jangan sampai terpengaruh budaya kebaratan yang buruk, sebaiknya carilah peluang hal baik yang bisa dipelajari.


Terlihat peserta sangat antusias mengikuti setiap sesi acara dan mereka benar-benar mengharapkan adanya tindak lanjut yang riil atas diselenggarakannya acara ini. Semoga ada pihak / dinas terkait yang memberi ruang dan memfasilitasi pelatihan usaha yang dibutuhkan ke depannya. Semoga saja. Aamiin. (Seftyna/KAMI/PO).