Jumat, 05 Juli 2013

BMI Purna, anggota KAMI Ponorogo Berdayakan Pemudi Desa


Eka dan teman (sekaligus murid mejahitnya) di desa


Berawal dari keprihatinan atas kondisi warga di kampung halamannya, Desa Keben Josari Jetis, Ponorogo, Jawa Timur, Winarti Eka Lidyawati (33) terpanggil untuk bergerak. Salah satu alumnus pelatihan menjahit Institut Kemandirian (IK) Dompet Dhuafa ini membuka sebuah sentra pelatihan menjahit “Sangar Busana DD Eka”. Awalnya, keraguan ia rasakan.

“Saya sebenarnya ingin membuka industri jahit di sana tetapi tidak didukung oleh sumber daya manusia yang memadai juga dengan modal usaha,” ujar perempuan yang akrab disapa Eka ini.

Sebagai anak pertama dari keluarga petani yang memiliki keterbatasan ekonomi, perempuan kelahiran  Ponorogo ini menjadi tulang punggung harapan keluarga. Padahal,  ia bercita-cita melanjutkan pendidikan lebih tinggi setelah lulus Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Mimpi tersebut terpaksa kandas.

“Sempat ingin melanjutkan sekolah, tapi ngga ada biaya. Ya, saya usaha cari kerja waktu itu, maklum anak pertama,” ujarnya.

Mencari pekerjaan tak semudah yang dibayangkan Eka. Kesulitan demi kesulitan ia hadapi. Hingga pada 2003 ia berangkat ke Hong Kong mengadu nasib menjadi tenaga kerja di luar negeri (TKI). Baginya, menjadi TKI menjadi pilihan terakhir karena sulitnya mencari pekerjaan di tanah air.

“Jujur saja, bekerja di luar negeri bagi saya merupakan pilihan terakhir karena sudah mencari pekerjaan di tanah air sangat sulit,” kenangnya bercerita.

Kesulitan yang menerpa Eka masih terus berlanjut. Dua tahun pertama bekerja di Hongkong menjadi seorang pengasuh anak, ia merasa tak nyaman. Ia mendapatkan majikan yang suka mencela dan ringan tangan. Saat terjadi kesalahan yang tak disengaja seperti terjadi kerusakan barang, sang majikan tidak segan-segan memarahi bahkan dimintai ganti lewat pemotongan gaji. Bukan hanya itu, tak ada kata libur dari sang majikan bagi Eka.

Akhirnya, selang beberapa bulan kemudian, Eka bisa bernapas lega setelah mendapat majikan yang baru. Pekerjaan yang ia lakukan merawat orang jompo. Saat itu, ia diperlakukan secara manusiawi. Bahkan, setiap Ahad dan tanggal merah setempat ia diberikan libur. Sampai suatu ketika, ia mengenal Dompet Dhuafa Hong Kong dan mengetahui informasi tentang Institut Kemandirian.

“Setiap Ahad saya sering mengikuti kajian di Dompet Dhuafa Hong Kong. Dari sinilah saya mengetahui informasi pelatihan di Institut Kemandirian,” jelasnya.

Empat tahun bekerja di majikan kedua, kerinduan untuk pulang dan menetap di kampung halaman dirasakan Eka. Ia memutuskan untuk membuka usaha sepulang dari Hong Kong. Setelah kembali ke tanah air, ia tak langsung pulang ke Ponorogo, Jawa Timur. Ia memilih langsung mengikuti pelatihan menjahit di IK Dompet Dhuafa. Selama kurang lebih dua bulan Eka berlatih menjahit di sana.

“Saya bergabung di Institut Kemandirian pada 2011. Saya tidak menghadapi banyak kesulitan belajar menjahit karena dulu jurusan SMK saya juga fashion dan desain,” terangnya.

Setelah selesai mengikuti pelatihan, ia bertekad untuk mewujudkan mimpi-mimpinya mengembangkan pengalaman dan keterampilan yang dimiliki untuk memajukan kampung halamannya Ponorogo. Dukungan keluarga besar diberikan terhadap Eka, hingga akhirnya uang simpanan yang ia miliki digunakan untuk  memperbaiki kondisi keluarga dan sisanya digunakan sebagai modal berwirausaha.

Langkah awal yang dilakukan adalah membeli peralatan jahit. Ia membeli tiga mesin jahit. Bermodal mesin jahit itu ia juga menerima pesanan pakaian dan membuka pelatihan menjahit. Dalam melatih, Eka tak memungut biaya sama sekali.

“Setiap ada anak muda yang menganggur dan punya iktikad baik untuk berlatih, saya persilakan bergabung,” ujarnya.

Awalnya hanya sedikit yang berminat ikut pelatihan menjahit. Namun, lambat laun akhirnya banyak muda-mudi yang tertarik dengan ajakannya. Selain itu Eka juga bersyukur dengan adanya dukungan dari Dompet Dhuafa yang memberikan sembilan unit mesin jahit yang semakin mewujudkan mimpinya selama ini.

“Alhamdulillah, saya hanya bisa berucap rasa syukur kepada Allah, melalui Dompet Dhuafa saya bisa mewujudkan mimpi saya, memberdayakan kampung halaman saya,” tutupnya bahagia. (uyang/gie)

Source : di sini